Pendidikan Anak Ideal dalam Pandangan Islam
pendidikan anak dalam islam
Pendidikan anak dalam islam

Pendidikan Anak Ideal dalam Pandangan Islam

Dalam Islam sangat dikenal kisah heroik Muhammad Al Fatih, salah satu sultan pada masa Turki Utsmani sang penakluk Konstantinopel pada usia 21 tahun yang mengakhiri atau menaklukan Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa 11 Abad.

Jauh sebelum Muhammad Al fatih ada sahabat Rosulullah yang bernama Zaid bin Tsabit, yang pada usia 13 tahun dikisahkan dalam 17 hari mampu menguasaai bahasa Suryani dan menjadi penerjemah Rosul Solallohu ‘alaihi wasallam.

Ada juga kisah Atab bin Usaid yang diangkat Rosululloh sebagai Gubernur Mekkah pada umur 18 tahun, serta masih banyak lagi tokoh-tokoh muda Islam yang sudah mewarnai peradaban saat itu.

Sebagaimana lazimnya kita sebagai orang tua jika mengetahui atau membaca kisah-kisah tersebut pasti memiliki harapan anaknya ingin menjadi seperti para tokoh pemuda tersebut. Sayangnya kebanyakan orang tua hanya menjadikan harapan tinggal harapan, tanpa mau berbuat bagaimana anaknya bisa menjadi seperti para tokoh muda yang disebutkan di atas.

Banyak orang tua berprinsip “Nak zaman ayah dan bunda waktu kecil itu sengsara, jadi sekarang ayah dan bunda tidak ingin kamu sengsara seperti ayah bunda, mikir sekolah saja ya? Cukup ayah bunda yang memikirkan biaya sekolahmu sampai selesai kuliah, ayah bunda biayai asal kamu tidak sengsara hidupnya”.

Ada sebuah harapan dari orang tua ketika anaknya sekolah dijenjang yang lebih akan menjadi jaminan orang yang sukses. Namun, kenyataanya saat ini banyak anak-anak yang terjebak pada kondisi dewasa secara lahir (baligh) namun pemikirannya masih bocah dan disebut remaja, ada juga yang membuat istilah ABG (Anak Baru Gedhe) hingga ramai julukan baru yaitu anak Alay.

Di Indonesia sendiri sangat marak komunitas-komunitas ABG Alay yang berkembang menjadi trend gaya hidup remaja atau orang “dewasa” yang kekanak-kanakan.

Ada geng motor yang menampilkan eksistensi anggotanya dengan membuat kerusuhan atau dalam bahasa yogya disebut klitih. Ada komunitas “pecinta alam” yang jika naik gunung selalu membuat jejak vandalisme dengan mencoret bebatuan untuk eksistensi komunitasnya atau kemudian membuat foto dirinya di puncak dengan gear adventure yang mahal kemudian memposting di medsos dengan caption merasa diri keren dan orang lain bukan apa-apanya sehingga menimbulkan hate speech.

Fenomena fans selebritis muda antah berantah yang entah kenapa selalu ditiru model dan kelakuannya yang negatif supaya dianggap gaul, serta masih banyak lagi contoh-contoh yang lainnya.

Kenapa Lahir generasi ALAY?

Menurut para pakar psikolog yang keilmuanhya berasal dari western, masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, ada yang membagi rentang waktu remaja menjadi 3 yaitu:

  • 12-15 tahun = Remaja Awal
  • 15-18 tahun = remaja pertengahan
  • 18-21 tahun = remaja akhir

Sedangkan menurut Ustadz Harry Santosa dalam konsep pendidikan Islam secara fitrah fasenya adalah :

  • 0-6 tahun = fase anak-anak
  • 7-10 tahun = pre aqil baligh pertama
  • 11-14 tahun = pre aqil baligh kedua
  • 15 >= Aqil Baligh / dewasa

Baca kembali lagi sekilas alinea di atas, para tokoh pemuda Islam itu semuanya berumur di bawah 21 tahun. Tidak hanya dalam sejarah Islam di sejarah perjuangan di Indonesia juga ada tokoh tokoh pemuda yang sangat berpengaruh pada masanya, misalnya Muhamad Roem yang berjasa pada perjanjian roem-roijen pada masa revolusi Indonesia berumur 20 tahun,

Martha Christia Tiahahu menjadi pahlawan kemerdekaan meneruskan perjuangan ayahnya kapitan patimura pada umur 17 tahun, Dolly Salim putri dari KH Agus Salim berumur 15 tahun ketika mewakili organisasi kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderi (Natipij) di bawah naunagn perasatuan Pemuda Isalam atau Jong Islamieten Bond (JIB) ikut dalam kongres Soempah Pemoeda 1928.

Lihatlah pola yang sangat berbeda dalam remaja (teenager) dan pemuda (youth), sehingga jika melihat fase remaja dalam kontek western maka akan menjadikan orang dewasa yang di bocahkan.

Ada sebagian orang meyakini, sebelum dewasa lazimnya anak-anak melewati fase Alay, namun kalau kita mau memahami dan menjalankan pendidikan berdasarkan fitrah maka anak-anak kita tidak akan melewati fase alay, yang ada anak-anak akan belajar menjadi orang dewasa, terutama ketika mulai umur 7-14 tahun, siapa yang mendidik anak-anak belajar untuk menjadi orang dewasa? Kita inilah sebagai orang tua.

Banyak orang tua mencoba mengadabkan anak-anaknya di bawah umur 7 tahun namun ketika anaknya sudah masuk fase menjelang aqil baligh orang tidak tega untuk melepaskan anaknya belajar mandiri, sebagai contoh saja mau sekolah anak-anak masih dilayani, makan dilayani bahkan ada yang sampai SMA makan disuapi, dipakaikan kaos kaki orang tuanya atau asisten rumah tangganya, pakaian masih di cucikan, PR kalau kesulitan di kerjakan orang tuanya atau memanggil guru lesnya. Sekolah masih diantar atau ada yang terbalik masih SD atau SMP disuruh bawa sepeda motor ke sekolah.

Anehnya, ketika di sekolahnya diadakan kerja bhakti membersihkan sekolah orang tua ada yang protes:

“Saya membayar sekolah anak saya mahal-mahal di sini malah anak saya disuruh untuk menyapu, mengepel dan membersihkan sekolahan, apa sekolah tidak bisa membayar tukang kebun?”

Selain itu anak-anak seolah di sterilkan oleh orang tua, tidak boleh naik angkutan umum, setelah sekolah tidak boleh ikut berorganisasi nanti akan mengganggu belajarnya, tidak boleh ikut berkegiatan pecinta alam, tidak boleh naik gunung nanti sakit, padahal kegiatan-kegiatan seperti itulah yang akan membuat anak-anak belajar survive, belajar simulasi kehidupan masa depan yang unpredictible.

So jangan kaget kalau sekarang muncul komunitas L9BT, pergaulan (sex) bebas, banyak anak-anak terpapar narkoba karena orang tua tidak membersamai pendidikan anak-anaknya dengan baik, menurut istilah ustadz Aad karena ayah yang abai dengan kepengasuhan, bunda yang lebai dalam memberi asupan lahirlah generasi alay.

Melihat fenomena orang tua yang seperti itu maka saat ini dibutuhkan sebuah kurikulum untuk “sekolah orang tua” yang bisa menjadikan anak-anaknya siap menyongsong aqil baligh dan mewarnai peradaban bangsa Indonesia.

Sehingga diperlukan pemahaman untuk kedua orang tua agar berbagi tugas yaitu tugas ayah menjadikan anak-anaknya Aqil dan tugas bunda adalah membuat anak-anaknya baligh.

Semoga bisa diambil hikmahnya. Salam pendidik peradaban

Written by
Karinov
Join the discussion

Navi.id

Newsletter

Dapatkan konten-konten terbaik dari kami setiap minggu nya. Aman, tanpa spam.