Bisa dibilang, hampir tidak mungkin menjalankan bisnis apapun dewasa ini tanpa memerlukan data. Sebagian data yang digunakan pastinya penting dan diperlukan untuk menopang bisnis. Salah satu data penting bagi bisnis adalah data pelanggan.

Untuk memastikan kelangsungan bisnis, keamanan data sangat perlu untuk diperhatikan. Apabila suatu bisnis kehilangan data, maka kemungkinan besar akan berdampak pada efisiensi operasi.

Begitu pula jika suatu bisnis kehilangan data pelanggan, maka dapat menyebabkan permasalahan hukum termasuk penyelidikan dan denda dari pemerintah. Seperti yang Anda ketahui, beberapa negara telah menerapkan undang-undang tersendiri yang meregulasi privasi data dan kebutuhan permintaan pertanggungjawaban perusahaan atas data pengguna.

Jadi, menjaga keamanan data tak hanya dapat memastikan operasi bisnis menjadi efisien juga dapat mencegah keluarnya biaya denda akibat pelanggaran data. 

Prinsip Perlindungan Data

prinsip perlindungan data
prinsip perlindungan data

Data tidak muncul begitu saja tanpa adanya permintaan. Data dikumpulkan di suatu tempat, ditransfer, dari titik pengumpulan ke titik penyimpanan, diproses dengan cara tertentu, dan dikirimkan ke titik akses sesuai dengan kebutuhan bisnis. Proses tersebut bisa sangat rumit atau sederhana.

Contoh sederhananya adalah pengambilan pesanan pada situs web e-niaga. Dalam setiap proses tersebut, ada peluang untuk munculnya akses yang tidak sah atau resiko untuk kehilangan data. 

Bagaimana Cara Melindungi Data Pelanggan?

  1. Melindungi data saat transit

Jenis data seperti pesanan biasanya akan transit berkali-kali. Transit pertama adalah dari peramban pelanggan ke server web e-niaga. Kemudian halaman web diunduh ke komputer bisnis untuk ditelaah dan setelah itu dikirimkan kembali ke server web.

Dalam hal ini, pada langkah terakhir pengisian data keranjang belanja, pelanggan telah memasukkan info kartu kredit mereka di komputer mereka sendiri dan kemudian dikirimkan ke server web. Informasi sensitif tersebut dikirim melalui internet yang merupakan tempat yang sangat tidak ramah dan berbahaya.

Cara yang paling efektif untuk melindungi data pada tahapan transit ini adalah dengan memastikan situs Anda menggunakan sertifikat SSL dan protokol HTTPS, setidaknya pada halaman yang mengumpulkan data sensitif.

Hal ini dapat memastikan bahwa data yang transit antara server web dan peramban pelanggan telah dienkripsi saat melintasi internet. Apabila tidak memungkinkan untuk menggunakan enkripsi SSL pada seluruh halaman, Anda dapat menambahkan enkripsi ke semua transfer data dengan menggunakan Jaringan Pribadi Virtual (VPN). 

  1. Mengamankan informasi yang disimpan

Setelah data disimpan pada suatu tempat, data dianggap “diam”. Data diam disimpan di beberapa bentuk database. Entah dalam bentuk disk drive atau file individual seperti dokumen PDF. Meski berstatus diam, namun data tersebut memiliki kemungkinan untuk diakses penjahat. Orang jahat dapat menggunakan cara yang sah untuk mengaksesnya seperti mencuri kata sandi melalui phising.

Oleh karena itu, data yang tidak digunakan harus dienkripsi sampai dibutuhkan. Ini berfungsi dengan baik bagi daya yang tidak perlu sering diakses. Untuk melindungi akses data melalui kredensial login tanpa izin, maka harus tersedia kata sandi yang kuat dan akun individu untuk bisnis. Anda dapat memanfaatkan aplikasi pengolah kata sandi untuk membuat dan mengambil kata sandi yang kuat. 

  1. Melindungi data dari akses yang tidak sah

Akses tidak sah mengacu pada orang yang mengakses data tanpa izin. Ini bisa berarti orang jahat yang berhasil menyusup ke jaringan atau bisa juga karyawan yang mengakses data yang terlarang. Perlu untuk menerapkan proses otentikasi dan otorisasi untuk menghindarinya.

Untuk memastikan proses otentikasi dan otorisasi menjadi efisien, maka setiap komputer bisnis harus membuat log audit. Log audit memberikan jejak untuk memungkinkan penyelidik melihat siapa saja yang masuk ke berbagai sistem dan apa yang mereka coba lakukan saat masuk. 

  1. Mengurangi risiko kehilangan data

Kesalahan tidak sengaja seperti menimpa file penting, atau memformat hard drive juga dapat merusak data selamanya. Komputer juga tidak kebal dari bencana fisik seperti kebakaran atau kebanjiran.

Pada era komputasi kecil, setiap hari selalu ada orang yang kehilangan stik USB dan menjatuhkan ponsel mereka ke toilet. Bahkan, karyawan yang lengah rentan untuk mengklik tautan berbahaya, memulai serangan ransomwaredan mengenkripsi seluruh file secara permanen. 

Membuat rencana pencadangan yang andal, dulunya merupakan seni misterius yang hanya dapat dilakukan oleh administrator sistem yang berpengalaman. Tetapi kini hampir semua orang dapat membeli cadangan awan (cloud storage) dengan harga beberapa dolar saja per bulan.

Industri Anda mungkin juga memiliki regulasi penyimpanan data yang membuat Anda harus menyimpan data lama. Semakin lama data disimpan, maka semakin banyak peluang untuk dimusnahkan. Oleh karena itu, data retensi jangka panjang merupakan kandidat ideal untuk penyimpanan di luar lokasi. 

Regulasi Data Pelanggan di Beberapa Negara

Era Big data
Era Big data

Data pelanggan biasanya membutuhkan suatu regulasi khusus. Secara hukum, pencurian data pelanggan dan penyalahgunaan data pelanggan merupakan hal yang sangat berbeda.

Lebih dari 80 negara memiliki semacam undang-undang privasi yang harus diterapkan oleh pelaku bisnis. Kewajiban mendasar dari sebagian besar undang-undang tersebut biasanya adalah:

  1. Mendapatkan izin untuk mengumpulkan data pelanggan.
  2. Mengumpulkan informasi sesedikit mungkin.
  3. Menggunakan data hanya untuk hal yang diizinkan.
  4. Melindungi informasi pelanggan dari akses yang tidak sah.
  5. Memberikan akses data bagi pelanggan.

Beberapa negara yang terkenal telah menerapkan undang-undang privasi data adalah Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia. Dengan adanya undang-undang, maka diberlakukan pula hukuman bagi pelanggar. 

Tagged in:

,