Stimulasi Sensori untuk Perkembangan Bayi dan Balita
stimulasi perkembangan bayi
Stimulasi perkembangan bayi

Stimulasi Sensori untuk Perkembangan Bayi dan Balita

Bayangkan kita berada di atas jembatan tali yang bergoyang. Bagaimana rasanya? Apakah kita merasa takut jatuh?

Bayangkan kita melempar bola ke sebuah ring basket. Dan heran, mengapa kok tidak bisa masuk juga. Sementara bagi orang lain aktivitas ini “piece of cake” (begitu mudahnya)

Bayangkan kita harus mencari buku di sebuah toko buku atau perpustakaan dengan ribuan buku di dalamnya (bukan perpustakaan digital)

Bayangkan kita datang ke sebuah daerah atau negara yang asing. Dan memakan makanan yang sama sekali baru. Teksturnya, rasanya dan tampilannya.

Semuanya itu terkait dengan sensory integration. Bagaimana seseorang mengintegrasikan sensorinya sehingga dapat berfungsi dan melakukan aktiviatas sehari-hari dengan baik.

Dalam bahasan sensory integration, maka tidak hanya 5 indra (penglihatan, pendengaran, pengecapan, penciuman dan perabaan) yang dibahas, melainkan ada 7, yaitu ditambah dengan vestibular atau keseimbangan dan proprioceptive, yang berkait dengan kendali tulang dan sendi atau motorik.

Proses sensory integration ini berlangsung sejak bayi. Ada beberapa sensori yang berkembang lebih cepat daripada sensori lain, misalnya pendengaran lebih cepat daripada penglihatan. Namun semuanya perlu distimulasi agar berkembang baik dan terintegrasi.

Integrasi sensori ini yang menjadi fondasi dasar perkembangan kemampuan berikutnya. Yaitu kemampuan kendali emosi dan juga kemampuan kognitif (berpikir) dan berpengaruh terhadap kemampuan adaptasi dan relasi sosial.

Bagaimana ceritanya bisa nyambung dan berpengaruh sejauh itu? Saya ambil contoh sederhana.

Bayi perlu diayun

Bayi perlu diayun secara ritmis ke atas, ke bawah, ke samping kiri dan kanan atau bahkan depan belakang. Ibu atau pengasuhnya yang perlu melakukan itu secara perlahan sambil bermain, sehingga bayi menghayatinya sebagai hal yang menyenangkan. Diayun sedemikian rupa akan mengintegrasikan vestibular. Sehingga bayi dapat menyeimbangkan dirinya dalam kondisi gerakan tersebut.

Bayi-bayi yang hanya digeletakkan di tempat tidur tanpa memperoleh stimulasi vestibular akan merasa gamang dan takut saat balita mulai mencoba aktivitas fisik yang menuntut kemampuan vestibular. Misalnya seperti meniti, memanjat, main ayunan, dan naik turun tangga. Ia menjadi rewel, ragu, menangis, dan lain-lain.

Bayi perlu sentuhan

Dibelai, dikecup, dielus, dipeluk. Sebetulnya ini bukan hanya sekedar aspek taktil/sentuhan, tapi juga bisa berkait dengan auditori, bila sambil diucapkan kata-kata lembut. Bisa juga berkait dengan vestibular bila sambil diayun. Bahkan bisa berkait dengan penciuman dan pengecapan, bila sambil menyusu dan menghirup aroma wangi tubuh ibu.

Semua ini juga akan menimbulkan emosi tertentu. Apakah ia merasa nyaman, atau tidak nyaman (bila yang menggendong canggung, sambil menelpon, sambil memarahi orang lain, dll).

Bila anak dibimbing serta dilatih di area sensori yang ia mengalami kesulitan, dengan baik (tidak dipaksa, diejek, dimarahi, dll), maka ia akan mengembangkan rasa percaya pada lingkungan dan dirinya sendiri. Sebaliknya bila tidak dilatih dan dibimbing, maka ia menjadi insecure (merasa tidak aman) dan takut mencoba hal baru.

Kondisi akan lebih buruk bila pola asuh yang diterapkan tidak efektif. Baik yang terlalu memaksa maupun yang terlalu longgar (permisif) membuat anak berpeluang besar mengalami masalah dikemudian hari.

Orangtua yang terlalu memaksa membuat anak double stres. Stres karena apa yang dihadapi dan stres karena tekanan orangtua. Sementara orangtua yang permisif mengajarkan anak untuk selalu menyerah dalam menghadapi kesulitan.

Kembali lagi tentang berayun yang berkaitan dengan memanjat dll. Maka bila tidak teratasi di masa kecil berpeluang melebar ke situasi sosial. Membuat anak kurang bisa bertoleransi terhadap situasi yang baru. Enggan masuk sekolah baru, enggan berkunjung ke tempat yang dipandang kurang nyaman. Tak berani pergi atau mengekplorasi hal baru di tempat baru, dan lain-lain. Semua ini bisa menghalanginya untuk mengembangkan diri. .

Itu baru tentang vestibular dan taktil. Belum tentang sensori lainnya.

  • masalah sensori visual berkait dengan gangguan konsentrasi
  • masalah sensori taktil (sentuhan) berkait dengan kemampuan pengelolaan emosi
  • masalah sensori penciuman dan pengecapan berkait dengan gangguan makan, bicara dan lebih jauh pasa komunikasi
  • masalah proprioceptif bisa berkaitan dengan keluwesan gerak, konsentrasi, kepercayaan diri.

Ada anak yang mudah mengintegrasikan sensorinya dengan melakukan aktivitas sehari-hari yang variatif dengan dukungan orangtua. Ada yang menuntut kesabaran lebih besar dari orangtuanya. Dan ada pula yang membutuhkan bantuan profesional dengan melakukan terapi SI.

Anak yang membutuhkan terapi terstruktur karena kondisi bawaan, biasanya tidak terlalu banyak namun tetap perlu memperoleh perhatian khusus.

Tantangan yang saya lihat saat ini adalah justru pada anak yang sebetulnya normal dan sehat, namun kurang terstimulasi optimal, entah karena ketidak-tahuan atau keengganan orangtua/pengasuh memberikan stimulasi atau alasan lainnya.

Era digital saat ini juga cukup berpengaruh karena membuat sementara orangtua tergoda memberikan games dan gadget yang membuat anak “tenang” namun di sisi lain mengurangi kesempatan anak mengembangkan dan mengintegrasikan seluruh sensorinya secara seimbang.

Yeti Widiati

Saya tidak terlalu surprise dengan meningkatnya keluhan orangtua bahwa anaknya sulit fokus, gampang rewel sulit beradaptasi, dan sebagainya.

Preventif itu lebih baik. Jadi bagi mereka yang putra/putrinya masih bayi dan balita baik sekali bila memberikan stimulasi dan kesempatan anak untuk melakukan variasi kegiatan. Lelah? Ya. Ribet? Mungkin ya. Tapi bila kita paham bahwa ini semuanya bernilai, maka Insya Allah kita lebih ikhlas menjalaninya dan yang jelas mengurangi kesulitan lebih besar di masa depan.

Lalu bagaimana yang sudah kepalang terlewat kurang stimulasi? Ya perbaiki saja dengan melakukan hal yang belum dilakukan secara bertahap. Mulai dari yang paling ringan. Apresiasi terhadap usahanya adalah yang paling penting dibandingkan dengan hasilnya.

Ditulis oleh: Yeti Widiati 36-280517

Written by
Karinov
Join the discussion
Navi.id

Newsletter

Dapatkan konten-konten terbaik dari kami setiap minggu nya. Aman, tanpa spam.